First Landing in Borneo (Part 1)
Beberapa waktu yang lalu, aku sering mendapat
pertanyaan dari temen-temen terkait pekerjaan. Baik itu masalah tesnya atau
terkait kondisi di lapangan. Nah kali ini aku akan berbagi cerita bagaimana aku
bisa kerja di Kalimantan dan bagaimana rasanya pertama kali landing di pulau
Kalimantan. Agak katrok mungkin ya, tapi aku memang belum pernah ke Kalimantan
sebelumnya. Jadi itu merupakan pengalaman yang cukup berarti buat diriku. Nah,
buat temen-temen yang nggak tertarik atau nggak penasaran, mendingan close tab
aja deh, hehehe. Mending baca yang lain yang lebih menarik buat dirimu. Peace.
Berawal dari email CDC Unsri.
Lagi enak-enak scroll IG, tiba-tiba di bagian layar atas hp-ku muncul notifikasi. Ikon e-mail yang sudah familiar itu nampak jelas. Sekilas terbaca olehku, “CDC Unsri”. “wah lokak lemak ini” dalam hatiku. Biasa, kebanyakan anak-anak yang baru wisuda sangat peka ketika berkaitan dengan lowongan. Hehe. Oh ya, apa sih CDC Unsri itu?. Buat kalian yang nggak tahu, CDC Unsri adalah Career Development Center, yakni lembaga yang berfokus pada pengembangan karir alumni Universitas Sriwijaya melalui kerja sama dengan banyak perusahaan. Lanjut. Lalu kuusap layar hp-ku ke bawah, dan mengklik notifikasi yang masih muncul. Dan bener kan, isi e-mailnya adalah informasi lowongan kerja dari DSN Group dengan posisi Management Trainee. Pas tuh, yang dibutuhkan adalah anak fresh graduate. Segera aku membuka link website CDC Unsri yang dicantumkan di pesan email itu. “Bismillah” dalam hatiku sambil mengklik tombol lamar.
Tes Psikotes di Perpus Unsri
Beberapa hari berlalu, akhirnya aku diundang untuk mengikuti tes psikotes di perpustakaan Unsri. Seingatku, pesertanya ada 200-an lebih, dari yang fresh graduate sampai yang sudah bekerja. Semuanya dikumpulkan di ruangan, duduk rapi di meja masing-masing. Pada waktu itu, salah satu jenis makhluk Tuhan yang lagi viral di era sekarang, yakni si Kokhona belum muncul ya gaes. hehe. Jadi kumpul rame dalam ruangan nggak jadi masalah.
Jadi gaes, sebelum tes di DSN Group, aku sudah
pernah ikut tes di perusahaan-perusahaan lainnya, seperti di Mayora, Sinar Mas,
Asian Agri, Wilmar, Astra Daihatsu, dan lain-lain. Tapi karena belum rejekinya,
jadi diskip dulu deh. Dan sampailah aku pada tahap tes psikotes di DSN Group
ini. Tes psikotes tentu nggak asing lagi buat para pencari kerja. Biasanya tes ini
dilakukan setelah pendaftar dinyatakan lulus seleksi berkas. Secara umum, tes
psikotes adalah serangkaian tes yang menguji kemampuan dasar, logika, serta
kepribadian kita. Berdasarkan pengalamanku, ada beberapa serangkaian yang harus
dikerjakan dari tes ini, yakni tes analog verbal, logika aritmatika,
Kraepelin/pauli, deret gambar, tes Wartegg, mengambar pohon, dan menggambar
manusia. Kurang lebih itulah rangkaianya. Akan tetapi setiap perusahaan bisa
beda, tergantung dari aturan masing-masing.
Karena aku sudah sering menghadapi tes-tes seperti
ini, jadi aku sudah mempersiapkan jawaban yang menurutku paling benar dari awal.
Yang paling pasti adalah menggambar, karena kita dari awal sudah bisa
menetapkan untuk menggambar apa. Menggambar pohon misalnya, mau pohon apa,
bentuknya gimana, buahnya berapa, kita bebas berkreasi. Namun dari semua hasil
gambaran itu dinilai loh gaes. Kata senior-senior aku, itu menggambarkan
kepribadian kita, misal ketegasan garis, keseimbangan gambar, kelengkapan
gambar, itu ada kaitannya dengan kepribadian kita, begonoo. But, cmiiw gaes.
Lanjut FGD (Forum Group Discussion)
Setelah tes psikotes selesai, kami diminta untuk
keluar sembari menuggu hasil tesnya. Mereka bilang jika sudah dinyatakan lolos
tahap pikotes, selanjutnya akan diadakan FGD. Wuiih, FGD cuy, yang aku
bayangin kalau mendengar kata FGD langsung kepikiran debat dan adu argumen.
Hehe. Secara aku orangnya nggak suka debat. Kalok sekiranya argumen orang lain
nggak terlalu kontroversi dengan argumenku, maka aku lebih suka diam lalu
bilang “yes, i agree”. Okee, akupun
lolos, FGD dimulai, dalam group itu terdapat kurang lebih 8 peserta. HRD-nya
bacain suatu case, dimana kami harus
berdiskusi untuk mendapatkan suatu solusi. Saat itu, case yang kami hadapi adalah kami sedang berada di bulan, lalu kami
hanya memiliki beberapa peralatan yang terbatas, seperti benang, perahu karet,
kaleng bekas, korek, dan yang lain aku lupa. Lalu kami harus berpikir apa yang
kami lakukan dengan alat ini agar kami bisa sampai pada titik tertentu dengan
selamat. Aku juga nggak tahu, kenapa harus barang itu yang dibawa -_-. Mungkin
biar kami bisa mikir, jadi otaknya lebih berguna kali ya. Wkwk. Nah setelah
itu, semuanya bergantian berbicara, blaaa-blaa-blaa-blaa. Disitu aku cuman
bilang setuju, sambil nambahin saran yang nggak begitu penting. Hmm. Ada yang
semangat banget, aktif banget kayak notif WA di group emak-emak. Dan akhirnya
ketemu solusinya. Tapi aku lupa apa hasil diskusinya. Hehe maap ya.
Pada tahap FGD, HRD ingin melihat bagaimana cara kita
berdiskusi, menyampaikan ide/pendapat dan bagaimana sekiranya menolak pendapat.
Tapi kita harus ingat, kita juga harus punya batasan. Berdasarkan pengalamanku,
terlalu aktif dalam FGD disini juga kurang baik menurut HRD. Aku pernah ikut
FGD di salah satu perusahaan, dan ada satu peserta yang terlalu aktif, sehingga
mendominasi diskusi itu. Ia banyak sekali bicara dan seolah-olah ia tahu
semuanya. Ternyata saat pengumuman, dia sendiri yang nggak lulus ke tahap
selanjutnya. Bisa jadi HRD berpandangan bahwa dia memiliki pribadi yang egois
dan sulit untuk menerima saran/masukan. Bisa jadi sih.
Semua group sudah selesai berdiskusi, saatnya untuk
menuggu berita selanjutnya. Ternyata hasilnya nggak diumumkan saat itu juga.
Yaahhh, kami penasaran dong. Akhirnya kami diminta untuk pulang, pengumuman
selanjutnya akan diinfokan lewat e-mail CDC Unsri.
Interview di Hotel
Alhamdulillah, ternyata aku yang saat FGD cuman
ngomong “setuju” disertai embel-embel yang nggak penting, bisa lulus juga.
Sebenarnya bukan karena aku nggak serius. Tapi karena HRD-nya nggak begitu bisa
memperhatikan saat proses diskusi berjalan. Sepertinya ada kerjaan lain yang
harus mereka kerjakan saat itu. Tapi yang bagian ini jangan ditiru ya gaes. Hehe.
Diperhatikan atau tidak, seharusnya dalam proses diskusi kita bisa melaksanakan
secara seksama dan fokus. Karena itu akan kita hadapi juga saat bekerja
nantinya.
Beberapa hari berlalu, aku diundang untuk interview.
Saat itu jadwalku pagi, pukul 10.00-11.00 WIB bertempat di salah satu hotel
Palembang. Aku naik motor bareng temanku yang saat itu diundang untuk interview
juga. Kami datang dengan semangat 45 untuk menjemput masa depan. Berpakaian
rapi, rambut klimis, dan wangi tentunya. Hehe. Oke gaes. Setelah menunggu
giliran, akhirnya namaku dipanggil juga. Ibu-ibu HRD yang duduk di samping
pintu memandangi kami, mencari yang namanya Hendi. Aku berdiri, sambil mengucap
basmalah dalam hati memasuki ruangan itu. Ceeess,
dinginnya AC ruangan itu membuat keningku terasa tebal, tapi aku tetap tidak
grogi. Just santai wae.
Pertama, aku dipersilahkan untuk memperkenalkan diri
sendiri. Lalu kuperkenalkanlah diriku kepada mereka. Dari nama, jurusan, asal
kampus, asal daerah, hobi, riwayat organisasi dan pengalaman kerja. Perkenalannya
seperlunya saja dan nggak terlalu panjang. Ini adalah strategiku untuk
memancing mereka agar lebih banyak tanya daripada aku yang cerita ngalor ngidul
nggak jelas. Sekedar ngasih tahu, saat interview itu yang aku hadapi adalah
jajaran menejer keatas, mereka yang akan menjadi atasan kami ketika kami
dinyatakan layak untuk bekerja. Lanjut, setelah perkenalan, mereka tanya
terkait caraku dalam berorganisasi, terutama dalam mengontrol anggota. Kujawab
dengan seadanya, yang sesuai dengan apa yang aku lakukan. Lalu mereka bertanya
tentang pengalaman magang, pemahamanku terkait magang dan pemahaman terkait
tugas akhir. Setelah kuceritakan semua yang aku tahu, mereka mengajukan
pertanyaan yang agak menarik buatku. “Kenapa kamu ingin bekerja?”. Pertanyaan yang
sebenarnya tak perlu ditanyakan lagi. Tapi aku melihat, sepertinya mereka ingin
mengetahui seberapa besar alasan dan keinginanku untuk bergabung di perusahaan
mereka. Akhirnya aku bilang bahwa alasan utama aku kerja adalah agar tak
menjadi beban orang tua lagi. Semua orang tentu sama. Kujelaskan kepada mereka
bahwa aku sudah terbiasa bekerja sampingan saat kuliah, kerja di warung geprek,
kerja di kantin, bahkan pernah jualan lukisan. Itu semua ya biar nggak terlalu
nyusahin orang tua. Sebenarnya masih ada banyak pertanyaan lain, tapi itu semua
aku yakin kok temen-temen bisa jawab sesuai diri masing-masing. Dan akhirnya interview
selesai, akupun dipersilahkan untuk keluar.
Jadi seperti itu gaes saat aku interview di DSN
Group. Lalu untuk kelanjutannya gimana? sabar yaa, itu akan aku tulis di part
selanjutnya. Jadi nanti aku akan cerita terkait Medical Check Up (MCU), Offering
Letter, serta keberangkatan. Okee, ditunggu ya. Semoga bisa bermanfaat buat
temen-temen sekalian. See you next part.

Kukira tulisan bakalan cerita tentang Bornoe, tentang pengalaman bekerja di tempat yang asing dan jauh serta bedanya dengan sumatera wkwk
BalasHapusTapi tetep menarik dan informatif sih kak tulisannya. Terlebih buat mahasiswa tingkat akhir kayak saia wkw. Meskipun sebenernya proses nyari kerja itu bukan hal baru, tulisan ini masih sangat menarik untuk dibaca.
Kan masih part 1 hehe
HapusAjak-ajak main ke Kalimantan dong π
BalasHapusKalimantan sedang berduka gan :(.
HapusWoooh, ini aku baca sampe habis loh hen. Nice. Aku jd bisa lebih tau tentang cerita njenengan terkait ini..
BalasHapusbtw, sedikit saran. font komen jangan cak ini, jadi cak anak alay -_-
Cewek2 banyak yang suka Do, sepertinya mereka yg aku prioritaskan, maaf :v
HapusManteps kak pengalamannya heeh
BalasHapusMakasih broo
HapusWow spicles akuh. Keren deh kak, suka sama cerita-cerita beginian (emang lagi masanya eaa). Itu menurutku jawaban kakak tentang alasan ingin bekerja sangat realistis sekali, plus ditambah pula dengan pengalaman pernah jual ini dan itu. HRD pasti melihatnya, "Wah orang ini pekerja keras." Congrats kak udah diterima kerja ya :D
BalasHapusThanks dek, bisanya baru share story, blm bs bikin opini spenuhnya wkwk
HapusNice story, ganπ
BalasHapusThanks gan
HapusGak sabar pengin baca lanjutannya hehe
BalasHapusInterview, FGD, Psikotes mengingatkanku pada awal masuk eSeMA. Pusing dan deg-deg an wkwk
Sangat informatif sekali. Tulisannya mengalir, jadi nyaman dibaca hingga akhir. Ditunggu part berikutnya ya min
BalasHapusWaiting to the next part,, maybe, about ur working experience at dsng, and the end decide to out from there :)
BalasHapus