Kuasa Tuhan dan Ridho Ibu
Kuasa Tuhan dan Ridho Ibu
Oleh : Hendi Julian
“...dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Q.S. al-Israa’ : 23-24).
............
Allah mengajarkan kita untuk bersyukur, satu kata yang jauh lebih luas maknanya dari kata terima kasih. Syukur menambah nikmat dan kufur diancam dengan siksa yang pedih. Lalu aku berharap, tulisan yang menemani sobat ini juga adalah bentuk syukurku pada Allah atas limpahan rahmat serta karunia-Nya.
Ini kisahku, kisah yang bukan sebuah fiktif belaka hanya demi sebuah inspirasi. Ini kisahku, kisah yang disusun oleh sebaik-baik Penyusun alam semesta. Mengisahkan perjalanan hidupku yang tak lepas dari sosok ibu tercinta. Sebuah rangkaian milyaran detik yang berurutan namun tak berulang, membentuk masa lalu yang indah jika dikenang. Ini kisahku, kumpulan paragraf cerita yang terjilid rapi nan kokoh dalam Lauhul Mahfudz-Nya. Dan inilah aku, hamba-Nya yang dhoif, Hendi Julian.
Hendi, itulah panggilanku. Seorang anak dari pasangan suami istri yang bernama Syahin dan Jumirah. Seorang anak yang sangat dekat dengan sosok ibu tercinta. Aku sangat bangga, dilahirkan di keluarga yang "sederhana". Label yang sudah biasa dicantolkan pada pintu rumahku.
“Ibu”, kata yang menggambarkan kasih sayang, kelembutan, perhatian, ketegasan, perjuangan, pengorbanan dan semua kata-kata baik yang dapat mewakilkannya. Memang benar, sosok ibu sangat mengagumkan. Ibu yang selalu menguatkan anaknya dalam kelemahan, mengingatkan dalam kesenangan, dan menegur dalam kekeliruan. Ia tak dapat dipisahkan dari setiap paragraf cerita hidupku. Disetiap asaku yang bangkit dari keterpurukkan, selalu ditopang oleh nasehat-nasehatnya. Maka Maha Benar Allah atas segala firman-Nya di atas, “...dan hendaklah berbuat baik pada ibu-bapak...”. Karena tak ada yang pantas diberikan kepada keduanya kecuali kebaikan.
Jalan hidup tak selalu mulus, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya beriman tanpa diuji keimanannya. Manusia akan dibuat khawatir dengan pernak-pernik dunia. Dengan kondisi keluargaku yang pas-pasan, maka sudah barang tentu ibuku tak bisa tinggal diam. Ibuku yang seharusnya sebagai ibu rumah tangga, juga ikut mencari nafkah di ladang orang. Buruh, sepertinya pekerjaan inilah yang dinyatakan layak untuk orang yang tak lulus Sekolah Dasar seperti kedua orang tuaku ini.
“...Bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian, demikian pun Rasul-Nya dan orang-orang beriman...” (Q.S. at-Taubah : 105)
Ibuku tak berhenti bekerja walau lelah menyepak, mengeruak keluh kesah. Tampak jelas kulitnya yang hitam legam karena panasnya matahari. Pergi pagi hari dan pulang sore hari, kepanasan dan kehujanan di ladang orang. Belajar ikhlas, semata-mata mengharap ridho Allah dalam menjalani amanah. Ia tahu, ada satu harapan yang kelak mampu merubah nasib keluarga ini, ya, anaknya. Maka hal yang paling diutamakan adalah pendidikan untuk anaknya. Beliau selalu berpikir bahwa anaknya harus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi darinya, ia tak mau anaknya bernasib sama dengannya, bekerja dengan pekerjaan yang sama pula.
Pendidikan yang bagus bukan hanya mengedepankan tingkat intelektualitas saja, akan tetapi juga akhlak terpuji. Selain pendidikan di rumah dan di sekolah, ibu juga menitipkan aku di pondok pesantren, Madinatul Munawarrah, pondok kecil yang santrinya hanya beberapa puluh saja.
Tahun berlalu, aku kian tumbuh dan belajar. Di sekolah dasar, aku selalu mendapatkan juara kelas, tak pernah keluar dari peringkat tiga besar. Ketika itu aku juga termasuk murid berprestasi ketiga se-kecamatan Sumberharta. Begitu juga di jenjang SMP, selama enam semester hanya sekali aku mendapatkan peringkat kedua di kelas, yang lainnya adalah peringkat pertama. Hingga lanjut ke SMA, tepatnya di SMA Purwodadi aku melanjutkan pendidikan. Dengan asal dan tipe murid lainnya yang lebih beragam, aku masih bisa berprestasi di dalamnya. Bukan apa-apa, tapi hal apakah yang bisa membahagiakan orang tua yang menyekolahkan anaknya kecuali prestasi?. Maka prestasi ini sejatinya adalah prestasi kedua orang tuaku.
“Keridhoan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, kemurkaan Allah itu terletak pada murka orang tua.” (H.R. at-Tirmidzi).
Sangat tepat sekali sabda Rasulullah SAW diatas. Restu orang tua akan membawa berkah dan murkanya akan membawa petaka. Aku teringat ketika gagal mengikuti seleksi perguruan tinggi negeri jalur SNMPTN (undangan). Ketika dua temanku yang juga termasuk peringkat tiga besar lulus jalur SNMPTN, hanya aku yang tidak lulus. Tentu ini adalah ujian yang sangat berat untukku. Anak yang paling diharapkan untuk bisa mengentaskan keluarga dari kesulitan, gagal masuk perguruan tinggi negeri. Kecewa, sedih, menangis bahkan putus asa. Hanya ada satu cara untuk bisa kuliah, yakni jalur SBMPTN, lalu mendaftar beasiswa Bidikmisi. Dari awal aku memang berniat kuliah hanya dengan beasiswa.
Rasa takut selalu menghantui, karena pada waktu itu yang aku tahu tes SBMPTN (tertulis) sangat sulit bagi murid sepertiku yang berasal dari perdesaan. Akan tetapi aku masih beruntung, ada uluran tangan ibu yang menarikku dari lubang keterpurukkan. Ia menasehatiku setiap waktu. “Nak, jika seandainya kamu ditakdirkan untuk kuliah, maka jalan apapun akan Allah bukakan untukmu nak..”, begitulah nasehat yang sering ku dengar darinya.
Aku pun bangkit, sadar bahwa tak ada gunanya terus larut dalam kegagalan. Kuputuskan untuk ikut jalur SBMPTN. Pada waktu itu bulan Ramadhan, setiap malam aku dibangunkan oleh ibu untuk sholat malam dan berdoa. Ini adalah kesempatan untukku bermunajat kepada Sang Maha Pemberi. Menyimpuhkan kaki dan menengadahkan tangan. Aku tahu berdoa saja tak cukup. Setiap hari aku juga belajar soal SBMPTN tahun-tahun sebelumnya. Hingga akhirnya tiba saatnya aku harus berangkat ke Palembang untuk mengikuti tes ini. Sehari sebelum aku berangkat, aku meminta doa dan restu dari keluargaku, terutama dari ibuku. Aku bawakan seember air dan kubasuh kakinya, lalu kucium kakinya dengan kerendahan hati. “Bu, doakan dan izinkan aku untuk berangkat tes besok”, pintaku sambil menangis. Ibupun kaget dan spontan menangis tersedu, ia mengelus rambutku lalu mengaminkan permintaanku. Suasana di rumah dibuat haru oleh adegan itu. Hari itu adalah hari terdekatku dengannya. Besoknya aku pun berangkat dengan hati yang mantap.
Tes tertulis sudah aku lalui, sembari menunggu waktu pengumuman tak henti-hentinya aku berdoa di setiap sepertiga malamku. Hingga akhirnya hari pengumuman itupun tiba. Maha Besar Allah dengan Kuasa-Nya, dan aku pun lulus dengan beasiswa Bidikmisi di jurusan Teknik Mesin Universitas Sriwijaya. Bersujudlah aku atas Keagungan-Nya. Sebaik itu Allah kepada hamba-Nya yang mau berikhtiar dan berdoa. Aku sadar, semua ini tak lepas dari doa-doa keluargaku, ibuku, dan juga teman-temanku. Orang yang pertama kali aku datangi ketika aku lulus tentu adalah ibuku. Ibu yang selalu ada ketika aku butuh, menghibur ketika aku sedih, dan memberi semangat ketika aku gagal. Maka hari itu aku mengazamkan diri, akan selalu ku pinta di setiap sujudku agar Allah melindungi dan mengampuni dosa-dosa ibu dan bapakku. Aamiin.
Sobatku, nantikan kisah selanjutnya, kisahku ketika hidup di tanah kampus tercnta, yang InsyaAllah ada kebaikan yang bisa diambil didalamnya :)

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomemtarmu telah dibalas oleh penulis
HapusKomemtarmu telah dibalas oleh penulis
Hapusapaan siiih kalian ini hahaa
HapusBenar adanya doa ibu itu manjur sekali dan sebagai anak sepatutnya kita mencontoh Uwais Al Qarni yang selalu berbakti kepada ibunya, namanya harum di Surga...
BalasHapusPada siang hari yang bolong ia memperbaiki genteng rumahnya, waktu itu ternyata ibunya lagi tidur dan yang ia lakukan adalah berdiam diri menahan panas di atas balkon karna takut membangunkan ibunya. Selain itu ia juga menggendong ibu-Nya berangkat haji (source:yt)
Semoga kita bisa berbakti kepada Ibu layaknya Uwais🥺
Yups, tak terkenal di bumi, tapi terkenal di langit.
HapusTeringat kala itu waktu daftar SMA tidak mendapat suport dari lingkungan sekitar, hanya ibu yang menjadi support terbesar. Semoga kelak aku dipertemukan dengan ibu disurga.
BalasHapusAllahummaghfirlaha warhamha wa'fu anha..
Hapus😭❤️
BalasHapusIbu, tiga hruf penuh makna, terimakasih mbak sudah mengingatkan jiwa yang rapuh ini akan sesosok manusia yang mengenalkannya dunia:)
BalasHapusBtw, jgn panggil mbak ya hehe
HapusIbu. Aku biasa memanggilnya "Umak". Wanita tangguh namun melankolis. Terlihat tegar walau hatinya sedang nanar. Begitulah yang bisa kudefinisikan..
BalasHapusSemoga Ibu kita semua selalu dalam Lindungan Allah swt. Aamiin.
Btw, saya suka font ketika mengetik di blog kakak :)
Aamiin.. Kepada sesiapavsj yang menyandang status "ibu". Hormatku kepada kalian.
HapusSetting aja dek fontnya :)
Ibu. Aku biasa memanggilnya "Umak". Wanita tangguh namun melankolis. Terlihat tegar walau hatinya sedang nanar. Begitulah yang bisa kudefinisikan..
BalasHapusSemoga Ibu kita semua selalu dalam Lindungan Allah swt. Aamiin.
Btw, saya suka font ketika mengetik di blog kakak :)