CARA ALLAH MENOLONG HAMBA-NYA


Sobat, begitu pentingnya kita bersyukur, hingga Allah menjanjikan kepada siapa saja yang menyukuri nikmat-Nya akan ditambahkan kepadanya nikmat yang lebih banyak. Kita sebagai manusia berakal, tentu sangat ngeh dengan tawaran Allah ini. Maka ketika kita mendapatkan segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, harusnya tak menjadikan kita sebagai makhluk yang suka mengeluh. Mari kita replace keluhan-keluhan itu dengan kata “Alhamdulillah”.

.............................

Baiklah sobat, tulisan ini adalah lanjutan dari kisah yang dulu pernah aku tulis di postingan sebelumnya. Alhamdulillah, setelah aku mengetahui hasil pengumuman kelulusan tes masuk perguruan tinggi negeri, aku semakin yakin dengan Kuasa dan Pertolongan Allah. Allah Menolong kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Hanya kepada-Nyalah kita menyembah dan hanya kepada-Nyalah kita memohon pertolongan.

baca juga postingan sebelumnya : Kuasa Tuhan dan Ridho Ibu

Kedua orang tuaku juga bersyukur ketika mengetahui aku diterima di perguruan tinggi negeri. Meski ini bukanlah garis finish-nya, akan tetapi semua perjuangan dan pengorbanan orang tuaku seakan terbayar lunas. Akupun merasa begitu, aku bisa membuktikan bahwa aku mampu untuk menjadi seorang mahasiswa seperti yang lainnya. Namun di sisi lain, orang tuaku juga sedikit khawatir, yang sudah tentu kekhawatirannya disebabkan oleh masalah finansial. Walaupun aku diterima dengan beasiswa Bidikmisi, tak bisa dipungkiri bahwa kami masih harus mengeluarkan biaya. Aku tak bisa sepenuhnya mengandalkan uang dari beasiswa ini, karena beasiswa ini cair setiap tiga bulan sekali, maka untuk tiga bulan pertama tentu membutuhkan biaya. Biaya keberangkatan, biaya makan, biaya perlengkapan sehari-hari, dan kebutuhan lainnya ketika menetap di tempat yang baru juga sebagai mahasiswa baru.

Orang tuaku, yang saat itu hanya memiliki sawah yang luasnya beberapa puluh meter persegi saja, berniat menjual sawahnya untuk biaya awal perkuliahanku. Bagiku itu terlalu memaksakan, atau mungkin sangat disayangkan jika harus dijual untuk biaya awal perkuliahanku. Jika hanya untuk biaya makan, juga keperluan sehari-hari di tempat baru, kurasa tak sampai harus menjual sawah, karena kebutuhannya tak sebesar itu. Aku sempat mencegahnya dan menyarankan agar digarap saja. Dengan begitu sawah itu bisa menambah penghasilan orang tuaku. Namun orang tuaku tetap kekeh dengan niatnya. Setelah berdiskusi, ada hal yang membuatku haru, ternyata alasan mereka menjualnya adalah untuk membelikan aku laptop baru. Mereka bilang, jika aku ingin kuliahnya lancar dan mudah maka perlu peralatan yang bisa menunjang ku untuk belajar, seperti laptop. Ibu juga menambahkan, aku tak boleh terlalu mengkhawatirkan mereka, ibu dan bapak masih bisa bekerja. Begitulah mereka, mereka sangat pengertian hingga membuat aku sangat merasa bersalah. Sebenarnya aku tak masalah jika harus kuliah tanpa laptop, aku masih bisa pinjam atau memakai fasilitas kampus. Tapi ya begitulah, orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya, tanpa pikir untung ruginya.

Akhirnya sawah itupun terjual. Uang itu ibu bagi untuk beberapa keperluanku, ada untuk makan, untuk keberangkatan, untuk beli laptop, untuk beli peralatan kuliah, untuk perlengkapan masak disana, dan juga untuk pegangan ibu sendiri. Aku hanya nurut saja, mereka sudah melakukan yang terbaik untukku. jika aku usul ini dan itu, aku takut malah menambah beban pikiran buat mereka. Aku memutuskan untuk berangkat bersama temanku yang juga di terima di UNSRI, Dwi Eriyanto namanya, ia biasa dipanggil Erik. Kami sepakat untuk patungan menyewa mobil keberangkatan kami. Alhamdulillah, dengan begitu biayanya lebih murah. Selain itu, kami juga sepakat untuk tinggal bersama di Rusunawa Unsri. Kami sudah kenal sejak kelas satu SMA, sudah sering bersama, itulah kenapa kami berencana untuk tinggal bersama. Dan benar, kami punya tekad yang sama, yakni bagaimana bisa kuliah dengan meminimalkan beban kepada orang tua. Aku banyak belajar darinya. Belajar hemat, belajar puasa Senin Kamis, dan masih banyak lagi.


Keadaan Rusunawa Unsri pada tahun 2015.

Di tahun pertama kami kuliah, khususnya di semester I, aku dan Erik bisa menorehkan prestasi yang cukup membanggakan, tepatnya memprihatinkan 😢. Kami hanya butuh uang sebesar Rp25.000,00 untuk makan selama seminggu perorangnya. Aku ulangi, hanya Rp25.000,00 untuk satu minggu. Jika dibandingkan dengan teman-temanku yang lain, nominal sebesar itu hanya cukup untuk makan sehari. Dan hasilnya, ketika mudik, ibuku menangis sedih setelah melihat anaknya yang jadi kurus peyot tak berdaging. Ibuku bukannya senang melihat anaknya bisa hemat seperti itu, malah memarahiku. Ya begitulah jadinya, jika seorang anak tidak ingin membuat orang tuanya susah. Cara termudah adalah belajar hemat. Tapi sepertinya aku sedikit berlebihan. Hehe.

Kami tinggal di Rusunawa selama kurang lebih setahun. Setelah memasuki semester III, aku ditawari untuk tinggal di rumah yang berada di komplek perumahan dosen Unsri oleh salah satu senior aktivis Lembaga Dakwah Kampus Nadwah Unsri. Pada saat itu beliau memang langsung ditawari oleh Rektor untuk tinggal di situ. Namun karena beliau sudah menjadi Marbot masjid sehingga ia menawarkannya kepadaku. Rumah itu sepertinya dibuat untuk penjaga rumah Rektor, karena tepat berada di belakang rumah Rektor. Rumahnya cukup bagus dan sangat layak dihuni untuk sekelas mahasiswa. Aku memutuskan untuk mengajak teman-temanku yang mau tinggal di situ. Tempatnya jauh masuk ke dalam, di belakangnya adalah lahan Unsri yang masih belum dibuka. Agaknya sedikit kurang nyaman jika aku tinggal sendirian di rumah yang cukup besar itu. Maka dari itu aku mengajak Erik, Ahmad, Dika dan Prash untuk tinggal bersama. Beberapa Bulan kemudian, Rio dan Enggi juga ikut bergabung di situ. Ya, tentu banyak yang minat tinggal di rumah itu. Rumahnya cukup bagus dan fasilitasnya lumayan lengkap, seperti listrik, air, peralatan rumah, juga sempat ada wifi beberapa bulan. Semuanya gratis tanpa dipungut biaya. Sampai disini, kita semua tahu bagaimana cara Allah menolong hamba-Nya.

Ini aku, Alam, Prash dan Erik sedang bergaya start balapan lari di depan perumahan Rektor (balapan lari untuk mendapatkan hatinya si doi. *eehh)

Kami tinggal bersama di perumahan itu, lalu kami beri nama keluarga besar kami dengan nama Animator Unsri, yakni Aliansi Penghuni Rumah Rektor Unsri. Hehe. Singkat cerita, aku sudah hampir menginjak ke masa-masa semester ujung, jam kuliah pun sedikit berkurang. Pada waktu itu aku berpikir untuk mencari kerja. Jujur, aku pernah ke pasar Indralaya yang tak begitu jauh dari kampus Unsri, lalu aku menanyakan ke mas-mas tukang parkir apakah aku bisa ikut kerja dengannya. Ya, jadi tukang parkir. Nampaknya mas-mas itu tidak percaya denganku, ia pikir aku hanya bergurau atau mengejeknya, karena sepertinya ia mengenali statusku sebagai mahasiswa. Ia juga bilang bahwa kerja disini tidaklah enak, panas, nanti bisa hitam kulitnya, ya begitulah kira-kira katanya. Ahh, kalok sudah butuh uang bagiku tak ada masalahnya mau jadi hitam ataupun oren. Tapi ya sudah, ternyata memang tidak semudah itu mencari kerja.

Pada suatu hari, teman serumahku, Rio, yang merupakan pengusaha muda dan terkenal di Unsri, menawarkanku pekerjaan menjadi pramusaji di warung ayam gepreknya, Dapoer Ayam Lepas Geprek namanya. Sudah tentu aku menerimanya. Jadi setelah pulang kuliah, aku berangkat kerja bersamanya dari jam 5 sore hingga jam 10 malam. Hari kerjanya dari hari Senin sampai hari Sabtu. Alhamdulillah, selain mendapatkan uang, dari situ aku juga bisa belajar berbisnis. Belajar bagaimana berhadapan langsung dengan konsumen. Aku sangat menikmati pekerjaan itu, betapa senangnya hati ketika melihat para konsumen yang puas dengan makanan yang ku hidangkan. Apa lagi, pembelinya adalah mayoritas mahasiswa, dan banyak cewek-ceweknya (ughtea-ughtea). Bak setetes air di tengah gurun Sahara. Mak nyeess. Hehehe. Astaghfirullah, bercanda kok, tapi nggak bohong.

Aku bekerja disitu kurang lebih selama dua semester. Cukup lama memang. Tapi sekali lagi, aku sangat menikmati pekerjaan itu. Di semester akhir, aku mulai fokus untuk menggarap skripsi. Pada bulan Oktober 2018 aku mulai mengajukan judul ke dosen pembimbingku. Aku menargetkan untuk sidang skripsi pada bulan April 2019 dan wisuda pada bulan Agustus 2019. Alhamdulillah, semua sesuai dengan rencanaku. Aku sidang dan wisuda tepat pada waktu yang sudah aku targetkan. Setelah wisuda, tepat di bulan September 2019, sembari meng-apply lamaran kerja di beberapa perusahaan, aku kerja di kantin Asrama Lahat Unsri. Alhamdulillah, selalu ada jalan yang Allah berikan agar aku bisa mengurangi beban orang tua ku. Setelah kerja di kantin Asrama Lahat selama sebulan lebih, akhirnya aku diterima kerja di PT. Dharma Satya Nusantara, Tbk., yakni perusahaan pengolahan minyak kelapa sawit yang ada di Kalimantan Timur. Pada tanggal 16 Oktober 2019 aku terbang ke Jakarta untuk teken offering letter terlebih dahulu, malamnya singgah di hotel, lalu besok paginya aku terbang ke Samarinda. Hingga sekarang, aku sudah menjadi karyawan tetap sebagai salah satu asisten di perusahaan tersebut. Ini semua belum berakhir. Perjuangan, cita-cita, mimpi, dan niat-niat baik yang masih tertanam dalam diri semua tetap harus diperjuangkan. Masih banyak yang bisa dilakukan untuk lebih bermanfaat lagi buat keluarga, masyarakat dan agama. Kita harus yakin dengan bagaimana Cara Allah Menolong Hamba-Nya. Aku tahu, semua orang pasti memiliki kisah hidupnya yang penuh inspirasi. Semua memiliki kisah juangnya masing-masing. Aku berdoa, semoga kita semua diberikan kekuatan dan kesabaran untuk berjuang, menebarkan nilai-nilai kebaikan dan memberikan manfaat kepada siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Aamiin. 😊 

Semoga ketukan-ketukan keyboard yang memecah sunyinya malam, adalah disana sedikit kebaikan yang bisa diambil oleh para pengunjung laman ini. 

Komentar

  1. Mashaa Allah brother, trnyata cukup berat yaaa perjuanganmu. Aku tidak menyangka.
    Ditambah lagi, bisa makan cuma 25rb sepekan, itu luar biasa sekali. Hemat sekali, eh tapi jadinya u makan apa?
    Kalo aku sih, sejujurnya jg bisa kalo mau ngeluarin uang cuma 25rb se pekan buat makan. Tapi.... krn aku makan tidak beli, tinggal ambil di rumah, jadi free dong. Tidak keluar uang sepeser pun dalam sepekan buat makan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami iuran 25rb/org. Jadinya 50rb tuh untuk 1 minggu. Belikan sayuran like kangkung, kacang, terong panjang, kentang, wortel, kubis, gandum, dan beberapa biji telur. gituu terus , paling beda cara masak aja 😂. Eh, tapi kami bawak beras ya dari rumah.
      Yang paling mudah ya, goreng gandum campur telor, kasih kecap sama saos. Makan sama nasi. Ughh kebayang lah gimana rasanya. Wkwk

      Hapus
  2. sungguh mengharukan memang kalo mendengar cerita pengorbanan orang tua kepada anaknya. orang tua tidak pernah setengah setengah mendukung anaknya hingga menjadi sukses,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teruntuk temen yang orang tuanya masih ada, mumpung masih bisa melihatnya tersenyum, buatlah mereka tersenyum. Teruntuk temen yang orang tuanya sudah pergi. Maka kirimlah doa yang baik, bertingkahlah yang baik, semoga itu mamou merubah tangisnya di salam sana menjadi senyuman.

      Hapus
  3. Masya Allah kak :".
    Bener bener keren perjuangan kuliahnya. Rasa-rasanya masalah kuliahku cuma remahan wafer tango dibandingkan perjuangan kakak. Allah yang bakalan tolong :)

    Btw, aku pernah denger tentang Animator Unsri, eh ternyata foundernya disini wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalah orang itu masing-masing dek, ada orang susah di kuliah, lancar cari kerja. Ada kuliahnya lancar dan bagus, tapi pasca kuliah banyak hal sulit yang ia hadapi. Apa yang ada pada diri kita, itu tak menjamin apa-apa, tapi apa yang ada pada Allah, menjamin semua kebutuhanmu.

      Hapus
  4. keren banget...semoga sukses dan sehat selalu yaa pak hendi tetap rendah hati.👏👏

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan komentar, berkatalah bijak, karena kata-katamu ekuivalen dengan otakmu. :)

Postingan populer dari blog ini

First Landing in Borneo (Part 1)

Kuasa Tuhan dan Ridho Ibu